Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Cerpen

 

logo_sst.gif (2134 bytes)

Jl. Argasari No. 18 Telp. 62-265-327386 Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia 46122

                                        SUGIITO HADISASTRO

 

BINATANG

Dalam waktu singkat kota berubah menjadi lautan kepanikan dan ketakutanSuasana kota yang biasanya hingar bingar dengan kegiatan ekonomi dan bisnis, mendadak berubah menjadi kekacauan dan kebingu-ngan.

 Suasana benar-benar tak ter-kendali para pelaku bisnis di pusat-pusat bisnis meninggalkan aktivitas sehari-harinya dan ber-lari. Para birokrat di balik meja birokrasi meninggalkan pekerja-an rutinnya dan berlari. Para pendidik di gedung-gedung se-kolah dan universitas mening-galkan paper-paper mahasiswa, koreksian siswa-siswa dan berla-ri. Para pelajar dan mahasiswa meninggalkan buku-buku, diktat, tas, kalkulator, dan apa saja dan berlari. Para dokter dan parame-dis di rumah-rumah sakit, klinik, balai-balai pengobatan mening-galkan para pasien yang putus asa dan berlari. Para ibu-ibu ru-mah tangga dan babu-babu me-ninggalkan nasi yang belum di tanak, sayur yang belum digara-mi, piring-piring kotor yang be-lum dicuci, baju-baju yang belum dibilas dan berlari. Para copet di pasar-pasar swalayan dan di bis-bis kota meninggalkan dompet-dompet yang masih hangat dan berlari. Semua berlari dan berla-ri. Yang berkaki utuh, yang ber-kaki satu, pincang, buntung, se-mua berlari dengan caranya sen-diri. Semua berlari menuju satu titik Titik ketidakpastian. Titik nihil.

Apa saja yang pernah mereka dambakan menjadi tak bermak-na. Rumah mewah, mobil mahal, status sosial, jabatan basah, istri selebriti, semuanya tak bernilai. Mereka hanya menyisakan diri sendiri.

Kota benar-benar sepi. Sisa kejayaan kota-kota tinggal ser-pihan puing merana. Kota ter-luka, kota teraniaya. Serombong-an mahluk besar seukuran manu-sia berhati binatang tidak memi-lah menghadirkan kehancuran dan kehancuran kota-kota. Mere-ka menghancurkan yang terlihat, gedung-gedung, stadion-stadion, kolam renang, pusat pembelan-jaan, dan semua lambang kepo-ngahan peradaban. Mereka menghisap, memakan, menelan, melumat, mencincang, mener-kam, membinasakan. Senjata me-reka adalah kerakusan, kebo-hongan, kenistaan, keserakahan, dan semua lambang kepongahan peradaban. Kota teraniaya, kota terluka. Penduduk kota meronta, menghiba, meradang.

Kota terguncang. Kehidupan terkoyak oleh taring-taring keta-makan, kuku-kuku kekuasaan, orasi yang membinasakan sege-rombolan penyerbu menceng-kram jalan-jalan, mengacak sis-tem, merobohkan nilai-nilai, me-lumatkan sendi-sendi, mengoyak pilar-pilar. Tangan-tangan para penyerbu berlumur darah, kaki-kakinya berdiri di atas tumpukan sampah kehancuran kota. Mere-ka mengaum, mendirikan bulu roma, dan terus mengaum meng-hentikan denyut nadi. Cakar-cakarnya yang terkembang me-nyentuh apa saja menjadi kesia-siaan, abu percuma, menjadi tak menentu, menjadi tak berkepastian, menjadi tanpa bentuk.

Binatang-binatang penyerbu terus menggebu. Mereka tahu pikiran manusia, mereka tahu perasaan manusia, mereka tahu sistem manusia. Mereka tahu tak kenal malu. Penampilannya memalukan. Mereka bertelanjang kepala, telanjang dada, telanjang segala. Mana mata, mana telinga, mana perut, mana bokong, mana dan mana tak dapat dibedakan. Selebar apa mulutnya, seluas apa matanya, sebesar apa perutnya, sungguh fantastis. Mereka menelan aspal tak peduli. Mereka menelan berton-ton batu bara tak ambil pusing. Mereka menghirup gas alam tak pikir panjang. Mereka mengunyah hutan-hutan Kalimantan tak uasah bingung. Mereka menenggak bergalon-galon minyak mentah tak perlu muntah. Mereka dan mereka tak ubahnya monster-monster pergantian abad, yang berkelanadengan penuh haus segala.

Mereka binatang-binatang penyerbu. Hasrat mereka hanya menyerbu dan melumat. Mereka melumat bagai badai gurun, cepat dan liar. Semua yang tampak dilumat tanpa sisa. Semua kehidupan yang pernah berdenyut dilibas tanpa jeda. Yang ada hanya lari, dan lari. Tidak tahu harus menuju ke mana, berhenti di mana, berbelok di mana, beristirahat di mana, di mana dan di mana. Sirna.

Binatang-binatang penyerbu itu terus bergerak dari satu kota ke kota lainnya. Meninggalkan kehancuran dan ketidak-berdayaan. Setiap perlawanan hanya berakhir sama, lumat. Manusia tanpa hati tanpa nurani, lari. Berkelompok, berduyun-duyun, menaiki tebing, menuruni lembah, bersembunyi dan bersembunyi. Namun sang penyerbu terus memburu. Mereka tak kenal malu, tak kenal mundur. Target mereka adalah membinasakan hati nurani. Sang penyerbu paling takut apabila manusia menyimpan hati nurani di lubuk hati kecilnya. Sang penyerbu hanya dapat dikalahkan dengan kejernihan hati nurani, kebeningan iman.

Binatang-binatang penyerbu berkomunikasi dengan sesamanya menggunakan cakarnya.

"Aku sudah menelan habis cadangan seratus tahun batu bara di suatu pulau."

"Aku sudah menghirup habis cadangan seratus tahun gas alam di suatu pulau."

"Aku sudah mengunyah habis cadangan seribu tahun kayu-kayu bermutu di suatu pulau."

"Aku bahkan sudah menelan habis pulau itu sendiri."

Binatang-binatang penyerbu bahkan membabat semua spesies binatang yang meniru ujudnya. Mereka ingin menjadi binatang yang paling binatang. Mereka ingin meninggalkan dongeng terhebat tentang binatang yang pernah menghuni planet bumi yang indah dan bagus, namun dihuni oleh manusia-manusia yang kehilangan hati nurani. Tanpa hati nurani, manusia menjadi sasaran perburuan sang penyerbu.

Sesama manusi berlomba mencari tanpa menyisakan, menggunakan tanpa mendermakan, menguasai tanpa membagi, menyimpan tanpa mengumpan, mereka akan menjadi korban dari perburuan binatang penyerbu. Mereka harus belajar dari kehancuran, mereka harus mengambil hikmah dari kepongahan, mereka harus memahami setiap jengkal kebangkrutan dari kebangkrutan mereka sendiri.

Binatang-binatang penyerbu terus menyerbu karena mereka hanya takut pada hati nurani. Dicari hati nurani, dimanakah?***

 

Penulis tinggal di Batang, Jawa Tengah

Back Home Up Next