Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Coda

 

logo_sst.gif (2134 bytes)

Jl. Argasari No. 18 Telp. 62-265-327386 Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia 46122

 

URGENSI SENI

UNTUK KEMAJUAN MANUSIA

Oleh Faisal Kamandobat

 Art is beautiful: seni itu indah, demikian kita sering mendengar pepatah. Dan keindahan kerap hadir bukan sekedar keindahan semata; tetapi sesuatu yang mengundang refleksi, sublimitas kontemplasi, yang menggu-gah ‘dunia alam’ insaniah kita dan menyentuh wilayah mendasar perasaan manusia. Di sinilah seni hidup dan membangun kehidupan manusia, me-ngembangkan keindahannya. Di sinilah saat kita memiliki ruang dan kesem-patan untuk membuat pemaknaan, terlebih ketika kita semakin terasa terasing, kerontang, di tengah buas zaman, yang - ironisnya - tercipta dari ‘kebuasan kita’.

Sebuah karya seni selalu mengan-tarkan kita, entah pada suatu masa, momen, atau peristiwa sejarah tertentu. Sebuah karya seni selalu mengungkap ‘rahasia nasib’ zamannya. Tetapi ia tidak mau bercerita sebagaimana demonstran membakar massa, tidak sebagaimana raja mengumandangkan titah, tidak sebagaimana napoleon berseru, "Vini, Vidi , Vici" , tidak sebagaimana seorang pelacur berteriak memanggil ‘kekasihnya’, tidak sebagaimana seorang sufi yang nestapa menggumamkan mantra. Tidak sebagaimana iklan menyampai-kan pesan dan ‘keluhan’, pun tidak sebagaimana muda-mudi berbincang dan berciuman di taman kota, siang maupun malam.

Seni, memilih sebuah medium, seba-gai material, yang kerap - meski teramat sunyi - menembus bentangan waktu, dan manusia dari abad ke abad telah dipukau oleh ‘kekuatannya’; sebuah tenaga baru yang bukan sejenis peluru, bedil, gas airmata, statemen politik, pisau, tetapi selalu terasa lebih ‘tajam’ dan ‘kejam’ dari padanya. Bukankah batin kita dibuat kaget dan takluk olehnya, oleh seni? Ah, sayang sekali kekalahan ini sering kita ingkari dengan sikap malu-malu, dengan tersipu. Suatu sikap yang terkesan kurang ‘dewasa’.

***

Susanne K. Langer dalam kitabnya, Philo-shophical of Skteches (1964) menulis, "Art is indeed, the spearhead of human development, soci-al and individual. The vulgarization of art is the surest sympton of ethnic decline, (Seni sesungguhnya merupakan ujung tombak perkembangan manusia, sosial atau idividual. Usaha merendah-kan seni merupakan gejala yang paling pasti dari kemerosotan suku bangsa).

Sebuah bangsa yang maju, selalu didukung oleh perkembangan seni di negara bersangkutan. Entah itu seni musik, sastra, tari/pertunjukan, seni rupa maupun arsitekturnya. Zaman Yunani Kuno abad V sM. yang melahir-kan sekian lusin pemikir, pun didukung oleh sejarah seni yang ‘membabi buta’ perkembangannya. Lihatlah Arcopolis, selat pantai Athena dengan gedung-gedung berrelief menawan; dari sabalah inspirasi bentuk arsitektur sekian ba-nyak gedung dan istana raja di zaman sesudahnya diperoleh. Sophocles menu-lis di masa yang memungkinkan Oidi-pus di Colonos, Oidipus Sang Raja dan Antigon di pentaskan.

Pasca itu, generasi Renaissance diun-tungkan goresan warna Michael Angelo yang mistik dan mengundang ziarah batin, Da Vinci mewariskan ilmu ana-tomi yang berharga bagi dunia kedok-teran kita, pun katedral-katedral di ma-sa gereja berdiri menjulang, khotbah Paus dan Marthin Luther - dan bahkan sesudahnya - selalu dibuat molek dengan ornamen surgawi, yang ‘menguat-kan’ Tuhan, yang menghembuskan sorga.

Marilah kita mencoba berkata de-ngan menyadari apa yang kita celoteh-kan, marilah kita mencoba menjadi bangsa yang dewasa dan berbahagia. Agar kelak, jika kita memiliki anak-cucu, kita telah mewariskan tradisi dan kebudayaan yang lebih mengutamakan arti pentingnya esensi dibanding eksis-tensi, yang mengutamakan refleksi dibanding sekedar uap lamunan, yang menyertakan jiwa dalam gerak serta makna dalam perbuatan. Sebagaimana selama ini kita belajar, salah satunya: lewat seni.***

Penulis adalah  siswa SMU Islam Cipasung, aktivis Sanggar Sastra Tasik, tinggal di Pondok Pesantren Cipasung.

  Back Home Up Next