Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Interlude

 

logo_sst.gif (2134 bytes)

Jl. Argasari No. 18 Telp. 62-265-327386 Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia 46122

 

SASTRA INTERNET, MENEMBUS MODUS OPERANDI DAN BIROKRASI SASTRA KORAN

Oleh Donny Anggoro

Sastra merupakan bagian dari dunia seni yang tak dapat dipisahkan. Kendati kedudukannya sampai sekarang masih terasa menyendiri ketimbang bentuk-bentuk kesenian lain-nya seperti musik, tari bahkan seni peran. Kedudukannya yang elite dan sangat terbatas peminatnya membuat posisi sastra terasa terpencil dari dunia lainnya. Namun biar bagaimanapun sastra tetap saja terus berkembang secara inde-penden, begitu juga lewat media teknologi yang sedang berkembang saat ini: internet.

Sastra internet mem-buka wahana baru yang notabene lebih bebas mendobrak modus ope-randi tradisional "biro-krasi" sastra koran. Ru-ang, waktu dan kesempa-tan tak terbatas, yang ditawarkan begitu memi-kat. Dalam sekejap ratus-an sajak bahkan ribuan sajak langsung dipublika-sikan dan diterima oleh pembacanya tanpa mela-lui apa yang disebut di atas, "birokrasi" sastra koran: redaktur budaya yang berkuasa penuh, koran yang terbatas dengan halamannya dan resahnya menunggu dari sang penulisnya sendiri karya-karyanya terpublikasikan (baca:dimuat). Gagasan-gagasan budaya setiap saat dapat dinikmati pembaca melalui chating ataupun kritik dari para netter. Dalam sekejap karya-karya yang mendekam semakin lama di laci meja bergulir di dunia maya.

Akan tetapi kebebasan dan "keajai-ban" yang ditawarkan oleh dunia inter-net juga menimbulkan pertanyaan. Apakah karya-karya yang dimuat di internet bermutu? Bagai-mana membuktikan sajak-sajak itu bermutu, karena melalui media internet tidak ada lagi "saringan-saringan" kriteria dari para redaktur budaya? Ataukah hanya sekedar ekspresi kegembiraan dari para penyair saja yang telah berhasil mendobrak modus operandi tradi-sional?

Tentu saja hal ini sudah dipertimbangkan. Para konsumennya yang notabene bersikap sebagai penikmat (bukan sekali-gus kritikus) bisa berdis-kusi dan memberikan pendapat dan kritik seca-ra ilmiah tak kalah geng-sinya dengan apa yang pernah dilakukan selama ini. Akan tetapi sayangnya sampai sekarang ini kedudukan sastra internet belum dipertimbangkan sebagai salah satu gejala lahirnya angkatan baru. Bahkan pendapat-pendapat miring muncul juga di permukaan seperti sastra internet itu hanyalah angkatan alternatif berselubung teknologi. Ada juga yang menganggap prematur karena terbukti kebal terhadap kritik dari birokrasi tradisional sastra koran.1

Biar bagaimanapun sastra internet terus berkembang secara independen. Keindahannya yang hanya terjangkau oleh sesama netter tetap mengasyikan dan memiliki keunikan tersendiri. bukan tak mungkin lagi akan lahir genre baru yang disebut sastra teknologi. Kepada para penulis dan penyair telah me-nawarkan alternatif baru yang lebih mudah dan tak harus lagi besusah pa-yah dengan bergerilya dengan menjadi penjaja tulisan2 di berbagai media cetak, ataupun mencetak sendiri karya-kar-yanya lewat buku atau majalah yang tentu saja hasilnya lebih banyak menghasilkan tempat. Konon, majalah-majalah seni budaya dan buku-buku kini yang hanya mendekam di perpus-takaan dan gudang-gudang toko untuk sementara tergantikan. Keindahan sastra kendati masih tetap terpencil dari dunia lainnya3 perkembangannya yang me-nakjubkan lewat media internet masih menjadikan eksistensi sastra terasa elit dan eksklusif.***

                                                     Catatan:

1Medi Loekito, Klik Sastra Klik, majalah Gamma edisi 5 Desember 1999

2 Seno Gumira Ajidarma, Ketika Junalisme Dibungkam, Sastra Harus Berbicara penerbit Yayasan Bentang Budaya

3 Drs. Jakob Soemarjo, Sastra dan Massa penerbit ITB Bandung 1995

 Penulis adalah anggota Komunitas Sastra Indonesia (KSI), tinggal di Jakarta.

 

Back Home Up Next