Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Puisi

 

logo_sst.gif (2134 bytes)

Jl. Argasari No. 18 Telp. 62-265-327386 Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia 46122

 

Dema Komalasari
 
SAJAK KEMATIAN
 
Kami akan datang sebentar lagi
menerobos celah pintu
memelukmu dan berkata:
"Kematian itu tumbuh bersama detak
jantung
bersama penyair yang membaca sajak
bersama reporter TV, penyiar radio,
serdadu,
kiai, santri dan topeng-topeng"
Kami akan memelukmu dari balik
celah pintu
lalu berjanji datang
ke negeri ngeri, ke negeri sunyi
Kami akan datang sepanjang waktu
memelukmu
Dengar, kami berbisik
"Kematian itu rindu batang tubuh
rindu cairan airmata, rindu cinta
kepasrahan"
Dengar kami mengerang:
"Kematian itu membelit ruh, menarik jiwa
mengacak-acak keyakinan, membuang
semua rahasia
mencabik kulit, memotong tulang"
Kami berjanji, akan datang ke celah
pintu
menjemput, membawamu kepada
keabadian
mencintaimu, menghalaumu dari
kefanaan.
 
2000
 

  Dema Komalasari, Siswa Madrasah Aliyah Sirnabaya, Rajadesa, Ciamis.

 
 
Wahyudin Anwar
 
BIANGLALA
 
Sampai kapankah kesendirian menelanjangi diri
Mewarnai bayangan malam dari kedalaman waktu
Persemian hati pun terbit dan tak terkendali
Mengikuti petualangan berlipat-lipat angin
Mungkin kebijaksanaan angkasa adalah kebebasan
 
Di saat nanar fajar mencerna keringatku
Rombongan mega masih mengembarakan duka
Dengan membiarkan hari-hari terbelah
Sementara kobaran mimpi yang terus berdarah
Tak sedikit pun mendidihkan airmataku
Kecuali hanya membasahi keterbatasan pandanganku
Aku pun diperbudaknya agar selalu percaya
Bahwa lembah-lembah sunyi adalah kekasihmu
 
Dan sebuah samudra kembali menyembunyikan matahari
Serta melabuhkan sepi untuk kesekian kalinya
Hingga terciptalah air terjun atau tangisan
Ketika luka membalut kedua kakiku
Hujan yang meredakan perasaan dirinya
Telah mengantarkanku ke tempat pernikahanmu
 
1998
 

Wahyudin Anwar, penyair dan pedagang, tinggal di Bandung

 
Bambang Suyatno
 
LEONITA DA SILVA
 
Leonita Da Silva, cintaku
Tak akan pernah cukup menghidupimu
Siklus abadi menyebarkan sejuta syah peri
Debur ombak laut timor mengembar ke Nusa Tenggara
Tak ada yang dibawa kecuali suara yang mulai
Lain, mengartikan dunia
 
Leonita Da silva, kubayangkan
Kau berdiri pada jarak terukur bianglala
Mengingat-ingat jalan ke kampung halaman, bendera yang
Terpasang di halaman sekolah, wajah kawan sepermainan
Yang tak datang berkunjung ke pengungsian
Jarimu yang terlalu kecil saling mengeratkan pegangan
Karena suara geram tembakan masih menginap bermalam-malam
 
Seperti daun pintu yang dirobohkan
Leonita Da Silva, rindumu
Melambai dikecup angin lengket laut Timor
Menyambut pulang. Bila sampai, katakan pada kerabat lelakimu
Tak perlu lagi menyusun kamus pembalasan
Karena tenda pengungsian merupakan ejekan yang menyakitkan
Bagi kemanusiaan
 
Dili, 1999
 

 Bambang Suyatno, penyair, anggota SST, tinggal di Bandung

 
 
Dharmadi
 
DALAM KEMARAU
 
demi hujan langit setia menjerat awan digiring angin
sambil mengingat bumi; matahari masih bermain dengan retak tanah,
orang-orang menggalinya mencari kedalamannya yang suatu ketika nanti
menjadi kuburnya sendiri.
dan engkau masih berjalan dalam debu dalam edar bumi di ujung runcing musim
sambil menggendong pohon kehidupan, menjalani perjanjian, melintasi taman di puncak kemarau sayup-sayup mendengar sedu sedan
tunas bunga yang kehilangan kasih; tanganmu menyeka butiran airmata
yang mengalir begitu saja lewat relung pipimu dengan sedikit desah.
langkahmu tertahan di pekarangan belakang rumah memandang
 
pohon salam dekat sumur tua dalam kesedihannya melepas helai demi helai daunnya
dikirimkan ke tanah; ada rasa kehilanagan dalam dadamu.
engkau kembali melangkah berjalan dalam debu, dalam edar bumi setia
menggendong pohon kehidupan sambil terus menerus mengkristalkan kesadaran
sesekali melintas burung yang rindu senja dalam kelana kehilangan
sarang pada ranting dahan kepak letihnya meniupkan angin menerpa wajahmu
dan engkau sesekali terpana.
engkau masih berjalan dalam kemarau merindukan keteduhan, sesekali
terjebak gelombang hujatan; dengan segala kepercayaan sambil menggendong
pohon kehidupan menuju senja yang mengantarkan ke jalan malam mengistirahatkan
 
kegelisahan sambil mengurut keletihan berlulur bulan dan menghitung-hitung bintang.
 
Purwokerto, 1999
 

Dharmadi, penyair dan ahli pijat refleksi, tinggal di Purwokerto

 
W. Haryanto
 
TERTIDUR DI BULAN OKTOBER
 
Tiba-tiba angkasa memburuk bagai luka tusukan
semua cahaya meluncuri tanah lewat ketajaman
 
Dan jejakku mendatangi taman yang tentram
mengusiknya dengan bisikan. Di pohon yang hidup
 
Aku kepongpong yang berlut tangkainya
Fantasiku bersekutu dengan matahari, ketika suaraku
 
Mirip tangan-tangan terracota dari kampung
Kampung masa lalumu yang dirubuhkan. Hanya sebuah jalan
 
Jalan sederhana yang tersisa di kuburan pikiranmu
Setelah semua asal-mula membiusmu dengan bayangan
 
Di pohon yang hidup, mataku menjadi pelabuhan
Bagi kecantikanmu yang berserakan dan dilingkupi daun
 
Daun. Ketika kesadaranku mengunyah kulit pohonan
Dan kata-kataku memata-matai mimpimu. Bagai relief
 
Yang bengis dan disandarkan pada dua peristiwa: darah dari
Tubuhmu, dan darah yang menjelma sungai pada ingatanmu
 
1998
 

W. Haryanto, penyair, tinggal di Surabaya

 
Nizar Machyuzaar
 
LIMA
- Biografi Para Pengusung
 
jhon ngaku maskulin
dua puluh dua matahari digenggam
dua ratus enam puluh delapan bulan siap di gelap
terjebak jhon
kesengajaan tak terumuskan
"maaf Ibu, rasanya aku tak sesuai harapanmu.", ucap jhon
ibu jhon setia berjaga susu kaleng kue mari
mainan rumah-rumahan tersusun
 
"Jhon kecil masih nete ibunya ya....?"
sapa teman-teman jhon
tak suka jhon
ingat kecil dan kesenangan sekarang
dunia menindih memberat seperti tete ibu jhon
digelayut mulut jhon dan adik-adiknya
tiga matahari cemerlang
bapak kerja banting tulang
gundukan tanah merah
jhon mengingat samar wajah bapak
 
jhon menulis puisi
ibu jhon inginnya nanam padi
ada teman-teman jhon atas nama apa pun
siap seperti jhon nenteng biografi
 
nindy pacar jhon
leluhur pekerti luhur
ramah tamah sopan santun
karya-karya adiluhung
orang tua budaya timur
nindy dapat dari sekolah
besarlah payudara nindy
seksi feminim baju you can see
berkilah nindy, "sesuai jaman dan teman."
memang benar.", menung orang tua nindy
sambil nonton iklan teve swasta
 
"Nindy sayang pacar abang....", rayu jhon
"bulan indah ya."
"iya Bang, tapi itu kuno. Lebih indah film Hollywood."
"bicara film, Abang lebih suka film India. Kayak kamu,
you can see."
"ah, Abang bisa saja. Dasar penyair. Abang jangkis deh."
 
matahari ngumpet di tangan bulan siap di gelap
sayang kecolongan
nafas-nafas jaman menggilas mereka
kesengajaan tak terumuskan kilah mereka
daun-daun goyang diterpa angin
akhirnya tanggal juga
 
1999
 
 

Nizar Machyuzaar, mahasiswa Unpad, aktivis Teater Ambang Wuruk Tasikmalaya

  Back Home Up Next