|

Jl.
Argasari No. 18 Telp. 62-265-327386 Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia 46122
| |
- Dema Komalasari
-
- SAJAK KEMATIAN
-
- Kami akan datang sebentar lagi
- menerobos celah pintu
- memelukmu dan berkata:
- "Kematian itu tumbuh bersama detak
- jantung
- bersama penyair yang membaca sajak
- bersama reporter TV, penyiar radio,
- serdadu,
- kiai, santri dan topeng-topeng"
- Kami akan memelukmu dari balik
- celah pintu
- lalu berjanji datang
- ke negeri ngeri, ke negeri sunyi
- Kami akan datang sepanjang waktu
- memelukmu
- Dengar, kami berbisik
- "Kematian itu rindu batang tubuh
- rindu cairan airmata, rindu cinta
- kepasrahan"
- Dengar kami mengerang:
- "Kematian itu membelit ruh, menarik jiwa
- mengacak-acak keyakinan, membuang
- semua rahasia
- mencabik kulit, memotong tulang"
- Kami berjanji, akan datang ke celah
- pintu
- menjemput, membawamu kepada
- keabadian
- mencintaimu, menghalaumu dari
- kefanaan.
-
- 2000
-
Dema Komalasari, Siswa
Madrasah Aliyah Sirnabaya, Rajadesa, Ciamis.
-
-
- Wahyudin Anwar
-
- BIANGLALA
-
- Sampai kapankah kesendirian menelanjangi diri
- Mewarnai bayangan malam dari kedalaman waktu
- Persemian hati pun terbit dan tak terkendali
- Mengikuti petualangan berlipat-lipat angin
- Mungkin kebijaksanaan angkasa adalah kebebasan
-
- Di saat nanar fajar mencerna keringatku
- Rombongan mega masih mengembarakan duka
- Dengan membiarkan hari-hari terbelah
- Sementara kobaran mimpi yang terus berdarah
- Tak sedikit pun mendidihkan airmataku
- Kecuali hanya membasahi keterbatasan pandanganku
- Aku pun diperbudaknya agar selalu percaya
- Bahwa lembah-lembah sunyi adalah kekasihmu
-
- Dan sebuah samudra kembali menyembunyikan matahari
- Serta melabuhkan sepi untuk kesekian kalinya
- Hingga terciptalah air terjun atau tangisan
- Ketika luka membalut kedua kakiku
- Hujan yang meredakan perasaan dirinya
- Telah mengantarkanku ke tempat pernikahanmu
-
- 1998
-
Wahyudin Anwar, penyair dan
pedagang, tinggal di Bandung
-
- Bambang Suyatno
-
- LEONITA DA SILVA
-
- Leonita Da Silva, cintaku
- Tak akan pernah cukup menghidupimu
- Siklus abadi menyebarkan sejuta syah peri
- Debur ombak laut timor mengembar ke Nusa Tenggara
- Tak ada yang dibawa kecuali suara yang mulai
- Lain, mengartikan dunia
-
- Leonita Da silva, kubayangkan
- Kau berdiri pada jarak terukur bianglala
- Mengingat-ingat jalan ke kampung halaman, bendera yang
- Terpasang di halaman sekolah, wajah kawan sepermainan
- Yang tak datang berkunjung ke pengungsian
- Jarimu yang terlalu kecil saling mengeratkan pegangan
- Karena suara geram tembakan masih menginap bermalam-malam
-
- Seperti daun pintu yang dirobohkan
- Leonita Da Silva, rindumu
- Melambai dikecup angin lengket laut Timor
- Menyambut pulang. Bila sampai, katakan pada kerabat lelakimu
- Tak perlu lagi menyusun kamus pembalasan
- Karena tenda pengungsian merupakan ejekan yang menyakitkan
- Bagi kemanusiaan
-
- Dili, 1999
-
Bambang Suyatno, penyair, anggota
SST, tinggal di Bandung
-
-
- Dharmadi
-
- DALAM KEMARAU
-
- demi hujan langit setia menjerat awan digiring angin
- sambil mengingat bumi; matahari masih bermain dengan retak tanah,
- orang-orang menggalinya mencari kedalamannya yang suatu ketika nanti
- menjadi kuburnya sendiri.
- dan engkau masih berjalan dalam debu dalam edar bumi di ujung runcing musim
- sambil menggendong pohon kehidupan, menjalani perjanjian, melintasi taman di puncak
kemarau sayup-sayup mendengar sedu sedan
- tunas bunga yang kehilangan kasih; tanganmu menyeka butiran airmata
- yang mengalir begitu saja lewat relung pipimu dengan sedikit desah.
- langkahmu tertahan di pekarangan belakang rumah memandang
-
- pohon salam dekat sumur tua dalam kesedihannya melepas helai demi helai daunnya
- dikirimkan ke tanah; ada rasa kehilanagan dalam dadamu.
- engkau kembali melangkah berjalan dalam debu, dalam edar bumi setia
- menggendong pohon kehidupan sambil terus menerus mengkristalkan kesadaran
- sesekali melintas burung yang rindu senja dalam kelana kehilangan
- sarang pada ranting dahan kepak letihnya meniupkan angin menerpa wajahmu
- dan engkau sesekali terpana.
- engkau masih berjalan dalam kemarau merindukan keteduhan, sesekali
- terjebak gelombang hujatan; dengan segala kepercayaan sambil menggendong
- pohon kehidupan menuju senja yang mengantarkan ke jalan malam mengistirahatkan
-
- kegelisahan sambil mengurut keletihan berlulur bulan dan menghitung-hitung bintang.
-
- Purwokerto, 1999
-
Dharmadi, penyair dan ahli pijat refleksi, tinggal di
Purwokerto
-
- W. Haryanto
-
- TERTIDUR DI BULAN OKTOBER
Tiba-tiba angkasa memburuk bagai luka tusukan
semua cahaya meluncuri tanah lewat ketajaman
Dan jejakku mendatangi taman yang tentram
mengusiknya dengan bisikan. Di pohon yang hidup
Aku kepongpong yang berlut tangkainya
Fantasiku bersekutu dengan matahari, ketika suaraku
Mirip tangan-tangan terracota dari kampung
Kampung masa lalumu yang dirubuhkan. Hanya sebuah jalan
Jalan sederhana yang tersisa di kuburan pikiranmu
Setelah semua asal-mula membiusmu dengan bayangan
Di pohon yang hidup, mataku menjadi pelabuhan
Bagi kecantikanmu yang berserakan dan dilingkupi daun
Daun. Ketika kesadaranku mengunyah kulit pohonan
Dan kata-kataku memata-matai mimpimu. Bagai relief
Yang bengis dan disandarkan pada dua peristiwa: darah dari
Tubuhmu, dan darah yang menjelma sungai pada ingatanmu
1998
W. Haryanto, penyair, tinggal di Surabaya
Nizar Machyuzaar
LIMA
- Biografi Para Pengusung
jhon ngaku maskulin
dua puluh dua matahari digenggam
dua ratus enam puluh delapan bulan siap di gelap
terjebak jhon
kesengajaan tak terumuskan
"maaf Ibu, rasanya aku tak sesuai harapanmu.", ucap jhon
ibu jhon setia berjaga susu kaleng kue mari
mainan rumah-rumahan tersusun
"Jhon kecil masih nete ibunya ya....?"
sapa teman-teman jhon
tak suka jhon
ingat kecil dan kesenangan sekarang
dunia menindih memberat seperti tete ibu jhon
digelayut mulut jhon dan adik-adiknya
tiga matahari cemerlang
bapak kerja banting tulang
gundukan tanah merah
jhon mengingat samar wajah bapak
jhon menulis puisi
ibu jhon inginnya nanam padi
ada teman-teman jhon atas nama apa pun
siap seperti jhon nenteng biografi
nindy pacar jhon
leluhur pekerti luhur
ramah tamah sopan santun
karya-karya adiluhung
orang tua budaya timur
nindy dapat dari sekolah
besarlah payudara nindy
seksi feminim baju you can see
berkilah nindy, "sesuai jaman dan teman."
memang benar.", menung orang tua nindy
sambil nonton iklan teve swasta
"Nindy sayang pacar abang....", rayu jhon
"bulan indah ya."
"iya Bang, tapi itu kuno. Lebih indah film Hollywood."
"bicara film, Abang lebih suka film India. Kayak kamu,
you can see."
"ah, Abang bisa saja. Dasar penyair. Abang jangkis deh."
matahari ngumpet di tangan bulan siap di gelap
sayang kecolongan
nafas-nafas jaman menggilas mereka
kesengajaan tak terumuskan kilah mereka
daun-daun goyang diterpa angin
akhirnya tanggal juga
1999
Nizar Machyuzaar, mahasiswa Unpad, aktivis Teater Ambang Wuruk
Tasikmalaya
|